Untukmu, yang
sering kali muncul di layar televisi.
Apa kabar, kamu?
Apakah kamu kelelahan karena sibuk syuting yang terlalu padat? Aku bisa menebak
rasa lelahmu, dari raut wajahmu yang tersenyum berusaha menyembunyikan lelahmu.
Mereka
bertanya-tanya, begitu juga aku yang terus bertanya. Bagaimana perasaanmu saat
ini? Mungkinkah, kamu sedang mondar-mandir mengelilingi ruangan sambil
mengunyah permen karet? Atau, mungkin, kamu sedang bersenang-senang dengan
kawan-kawan sesama artismu?
Kamu, yang tak
pernah terlewati dari sorotan mataku.
Apakah kamu
mengenalku? Berkali-kali kita bertemu, namun dibatasi oleh layar kaca. Aku
melihatmu, tapi kamu tak melihatku. Aku mengenalmu, dan pasti kau takkan
mengenalku. Aku merasakan perasaan aneh yang bergelayut di otakku, entahlah
mungkin aku mulai mengagumimu, atau bahkan menggilai gerak-gerikmu.
Aku seringkali menjerit dalam hati, ketika sosokmu kembali muncul dilayar
televisi,
Sungguh, aku
memikirkanmu. Dan berharap bisa menyalami tanganmu seperti orang-orang
beruntung yang bisa menyentuh jemarimu, berharap bisa memelukmu, mengobrol
sebentar saja seperti orang-orang yang bisa bercanda denganmu setiap
hari. Aku ingin melihat wajahmu seperti orang-orang bernasib baik
yang bisa menatap dalam-dalam wajahmu. Aku ingin banyak hal, tentangmu, tapi
tak mungkin. Aku terdiam dan tak melanjutkan obsesiku. Aku tak minta banyak
hal, aku hanya ingin merasakan kehadiranmu dalam semestaku. Berubahlah menjadi
apapun, asal kamu mengorbit dalam galaksi milikku.
Gadis dengan
tatapan sendu yang mengacaukan sel-sel impuls di otakku.
Kali ini, aku tak
peduli, kau mau menganggapku orang bodoh dengan banyak obsesi atau orang
setengah gila yang mengharapkan banyak hal. Aku hanya mengagumimu, bukan ingin
merusak hari-harimu. Kamu orang besar, tenar, juga banyak orang yang
mencintaimu. Aku hanya sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan kamu dalam
barisan hari-hariku.
Kamu bukan udara,
oksigen, atau air. Tapi, sehari tanpa melihat senyummu, rasanya ada yang
kurang. Minggu-minggu ini, aku mulai terbiasa menatapmu setiap hari dan
terus-menerus, berganti-ganti channel televisi hanya untuk mendapati dirimu
yang antusias berakting diberbagai sinetron.
Aku ingin
bersinggungan dengan tatapan matamu yang lembut, dan merasakan kebahagiaan yang
meledak-ledak di jantungku.
Untukmu, gadis
pemilik senyum melankolik.
Sudahlah, kini kau
sudah paham tentang perasaanku, atau masih tak paham? Atau masih bingung? Atau
masih geleng-geleng kepala? Percayalah, aku pun sama denganmu, kebingungan dan
pusing tujuh keliling. Aku juga tak mengerti perasaanku. Aku hanya tahu rasa
ini bertumbuh lebih cepat daripada yang kuduga. Tiba-tiba aku melihatmu, lalu
kamu ada di kepalaku, lalu senyummu terus memenuhi labirin-labirin kosong di
hatiku.
Apa yang harus
kulakukan, Kak? Haruskah aku menyeret bayangmu hingga benar-benar keluar dari
otakku? Aku tak bisa, dan tak akan pernah kucoba, karena aku menikmati
saat-saat ini, saat kamu mengalir dalam jengkal napas dan setiap tetes darah.
Apakah setiap hari
aku masih bisa bertemu denganmu di layar kaca? Apakah aku bisa merasakan sinar
matamu dari balik televisi? Apakah aku masih pantas mengagumimu?
Gadis mungil yang
cantik,
Tahukah kau? Aku
selalu iri melihat orang yang bisa foto bareng denganmu, tetapi aku yang hanya
bisa mengoleksi fotomu yang ada dimemori handphoneku dan melihat kecantikanmu
dibalik layar kaca.
Setiap hari tiada
terlewati aku memujimu kecantikan dan kebaikan hatimu. Aku telah berterimakasih
kepada Tuhan yang menciptakanmu begitu sempurna.
Tetapi, sudahlah
kamu orang hebat. Jalani saja semua pekerjaanmu dan aku disini hanya bisa
diam-diam mendoakanmu. Dan pasti kau tertawa saat membaca suratku yang
gila ini.
Kalau boleh
sedikit lancang, kapan-kapan aku ingin foto bareng bersamamu. Mau kusimpan di kamar,
untuk menjadikan kenangan yang terindah dalam hidupku. Boleh ya, Kak?
Dari
penggemarmu yang sangat pengecut dan fanatik,
Yang
juga tak mengerti perasaannya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar