Selasa, 14 Januari 2014

Surat Kecil Untuk Nikita





Untukmu, yang sering kali muncul di layar televisi.
Apa kabar, kamu? Apakah kamu kelelahan karena sibuk syuting yang terlalu padat? Aku bisa menebak rasa lelahmu, dari raut wajahmu yang tersenyum berusaha menyembunyikan lelahmu.
Mereka bertanya-tanya, begitu juga aku yang terus bertanya. Bagaimana perasaanmu saat ini? Mungkinkah, kamu sedang mondar-mandir mengelilingi ruangan sambil mengunyah permen karet? Atau, mungkin, kamu sedang bersenang-senang dengan kawan-kawan sesama artismu?
Kamu, yang tak pernah terlewati dari sorotan mataku.
Apakah kamu mengenalku? Berkali-kali kita bertemu, namun dibatasi oleh layar kaca. Aku melihatmu, tapi kamu tak melihatku. Aku mengenalmu, dan pasti kau takkan mengenalku. Aku merasakan perasaan aneh yang bergelayut di otakku, entahlah mungkin aku mulai mengagumimu,  atau bahkan menggilai gerak-gerikmu. Aku seringkali menjerit dalam hati, ketika sosokmu kembali muncul dilayar televisi,

Sungguh, aku memikirkanmu. Dan berharap bisa menyalami tanganmu seperti orang-orang beruntung yang bisa menyentuh jemarimu, berharap bisa memelukmu, mengobrol sebentar saja seperti orang-orang yang bisa bercanda denganmu setiap hari.  Aku ingin melihat wajahmu seperti orang-orang bernasib baik yang bisa menatap dalam-dalam wajahmu. Aku ingin banyak hal, tentangmu, tapi tak mungkin. Aku terdiam dan tak melanjutkan obsesiku. Aku tak minta banyak hal, aku hanya ingin merasakan kehadiranmu dalam semestaku. Berubahlah menjadi apapun, asal kamu mengorbit dalam galaksi milikku.
Gadis dengan tatapan sendu yang mengacaukan sel-sel impuls di otakku.
Kali ini, aku tak peduli, kau mau menganggapku orang bodoh dengan banyak obsesi atau orang setengah gila yang mengharapkan banyak hal. Aku hanya mengagumimu, bukan ingin merusak hari-harimu. Kamu orang besar, tenar, juga banyak orang yang mencintaimu. Aku hanya sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan kamu dalam barisan hari-hariku.
Kamu bukan udara, oksigen, atau air. Tapi, sehari tanpa melihat senyummu, rasanya ada yang kurang. Minggu-minggu ini, aku mulai terbiasa menatapmu setiap hari dan terus-menerus, berganti-ganti channel televisi hanya untuk mendapati dirimu yang antusias berakting diberbagai sinetron.
Aku ingin bersinggungan dengan tatapan matamu yang lembut, dan merasakan kebahagiaan yang meledak-ledak di jantungku.
Untukmu, gadis pemilik senyum melankolik.
Sudahlah, kini kau sudah paham tentang perasaanku, atau masih tak paham? Atau masih bingung? Atau masih geleng-geleng kepala? Percayalah, aku pun sama denganmu, kebingungan dan pusing tujuh keliling. Aku juga tak mengerti perasaanku. Aku hanya tahu rasa ini bertumbuh lebih cepat daripada yang kuduga. Tiba-tiba aku melihatmu, lalu kamu ada di kepalaku, lalu senyummu terus memenuhi labirin-labirin kosong di hatiku.
Apa yang harus kulakukan, Kak? Haruskah aku menyeret bayangmu hingga benar-benar keluar dari otakku? Aku tak bisa, dan tak akan pernah kucoba, karena aku menikmati saat-saat ini, saat kamu mengalir dalam jengkal napas dan setiap tetes darah.
Apakah setiap hari aku masih bisa bertemu denganmu di layar kaca? Apakah aku bisa merasakan sinar matamu dari balik televisi? Apakah aku masih pantas mengagumimu?
Gadis mungil yang cantik,
Tahukah kau? Aku selalu iri melihat orang yang bisa foto bareng denganmu, tetapi aku yang hanya bisa mengoleksi fotomu yang ada dimemori handphoneku dan melihat kecantikanmu dibalik layar kaca.
Setiap hari tiada terlewati aku memujimu kecantikan dan kebaikan hatimu. Aku telah berterimakasih kepada Tuhan yang menciptakanmu begitu sempurna.
Tetapi, sudahlah kamu orang hebat. Jalani saja semua pekerjaanmu dan aku disini hanya bisa diam-diam mendoakanmu. Dan pasti kau tertawa saat membaca suratku yang gila ini.
Kalau boleh sedikit lancang, kapan-kapan aku ingin foto bareng bersamamu. Mau kusimpan di kamar, untuk menjadikan kenangan yang terindah dalam hidupku. Boleh ya, Kak?

Dari penggemarmu yang sangat pengecut dan fanatik,
Yang juga tak mengerti perasaannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar