Jumat, 26 Juni 2015

Tentang Hati

Begini,
hatiku sudah tak lagi cantik. Beberapa kali ia jatuh di tangan yang salah. Mereka tak menjaganya dengan baik. Ada beberapa goresan di sana sini. Warnanya juga tak lagi merah segar. Ada banyak sisi yang tampak biru lebam. Ada yang pernah memegangnya dengan ceroboh. Diam saja walaupun hatiku terantuk dengan keras, hingga memarnya mustahil hilang tanpa bekas. Ia juga beberapa kali patah. Ada yang dengan sengaja membantingnya hingga terbelah jadi dua. Yang ini membuatku hampir kehabisan darah. Tunggu dulu, itu bukan yang paling parah. Karena ada yang dengan wajah dingin, menginjaknya hingga hancur tak berbentuk. Aku tak lagi merasakan air asin yang meleleh hingga sudut bibir saat memunguti pecahannya. Aku memang berhasil menyatukan potongan-potongannya kembali. Jangan tanya berapa lamanya. Aku dengan sengaja tak menghitung hari, aku tak ingin gila. Bentuknya tak lagi sempurna, tapi sudah tak kutemukan lagi sisa pecahannya. Mungkin tak terlihat karena terlalu kecil, atau bisa saja masih tersangkut di sepatunya. Aku tak tahu.

Aku tak memaksamu untuk paham. Dengan kondisi seberantakan ini, aku tak sepeka dulu dalam menangkap rasa. Aku tak bisa secepat dulu mengartikan emosi. Ini cinta, atau hanya kagum semata. Ini rindu, atau sekedar ingin bercumbu. Aku kesulitan membedakan. Kondisinya tak memungkinkan untuk jatuh cinta secepat itu. Sebelum memutuskan untuk tinggal, pikirkan baik-baik.

Pengharapan

Aku paling benci saat pengharapan yang sudah ada dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar, akhirnya hanya akan dibuang sia-sia dan dilupakan. Mengapa kita harus jatuh cinta , kalo toh akhirnya hanya akan menjadi sia-sia? Mengapa kita tidak ditakdirkan jatuh cinta dengan seseorang yang bakalan menjadi pendamping hidup kita sampai akhir? Tuhan mungkin sedikit tidak adil, tapi setidaknya aku berterimakasih kepada-Nya. Dia membuatku mengerti tentang apa itu arti sebenarnya dari kata manja dan cinta. Semua hal yang tidak dibarengi dengan usaha pada akhirnya hanya akan menjadi percuma, tidak berguna alias sia-sia. Atau sebut saja istilahnya galau, aku tidak bisa mendeskrispsikan apa itu galau tapi jujur saja, aku munafik tidak pernah mengakui kalau aku galau. Kenyataannya, aku galau setiap hari. Meskipun begitu, aku selalu jaga imej di depan teman-teman dan sahabatku di sekolah. Mereka memandang wajahku bahagia tetapi sebenarnya dalam mataku. Aku menyimpan kekecewaan dan kegalauan yang luar biasa. Aku tidak memintamu untuk iba ataupun belas kasihan denganku melalui postinganku di sosmed. Tetapi aku hanya meminta satu hal dari kalian semua, para pembaca tulisanku yang setia dan juga teman-teman. Buatlah hariku penuh :’)